Pages

Tampilkan postingan dengan label Attitude. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Attitude. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Agustus 2012

Sikap Adalah segalanya

"Attitude is a little thing, but can make big differences" (Sikap adalah suatu hal kecil, tetapi dapat menciptakan perbedaan yang besar).
Sikap Anda setiap saat punya peran yang sangat penting terhadap kesuksesan atau kebahagiaan Anda. Tapi sikap yang bagaimana, agar kita dapat merengkuh kesuksesan dan kebahagiaan? Tak lain adalah sikap ‘bersyukur’ atau berterima kasih kepada Tuhan atas apapun yang kita dapatkan di dunia ini, kendati tuna netra (cacat fisik) seperti Helen Keller sekalipun. Sejumlah ilmuwan dari universitas terkemuka di dunia mengungkap bahwa manusia dapat menggali potensinya secara lebih mendalam dan luas dengan sikap yang positif. Yakni, dengan bersyukur itulah. Berdasarkan hasil penelitian terhadap ribuan orang-orang yang sukses dan terpelajar, berhasil disimpulkan bahwa 85% kesuksesan dari tiap-tiap individu dipengaruhi oleh sikap positif. Sedangkan kepemilikan skill atau technical expertise hanya berperan dari sisanya yang 15%.

Sikap positif juga mempunyai peran yang lebih besar di bidang bisnis jasa maupun bisnis pemasaran jaringan. Dapat dikatakan bahwa mencapah sukses di bisnis jasa maupun bisnis pemasaran jaringan sangatlah gampang, selama dilakukan dengan sikap yang positif. Ada sebuah kata-kata bijak yang menyebutkan, "Your attitude not aptitude determine your altitude” (Sikap Anda bukanlah bakat atau kecerdasan, tetapi menentukan tingkat kesuksesan Anda.) Sikap positif dapat terus ditingkatkan, yang tentu saja memerlukan waktu cukup lama. Yakni, dari pengalaman dan kesadaran serta belajar untuk berpikir positif. Karena untuk mampu bersikap positif, seseorang akan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Antara lain, faktor spiritual atau kemampuan untuk bersyukur, aspirasi atau kemampuan menciptakan impian dan kekuatan atau semangat dalam diri manusia itu sendiri, akan sangat mempengaruhi sikap seseorang. Faktor-faktor tersebut memberikan kontrol terhadap sikap seseorang dalam memilih respon terbaik atas kejadian-kejadian yang dialami. Kekuatan spiritual berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam melihat sisi positif dari setiap kejadian. Kekuatan keimanan menjadikan seseorang akan mampu mengartikan semua fenomena hidup ini sebagai pelajaran berharga, yang dapat membangkitkan nilai lebih dalam diri.

Selain itu, kekuatan spiritual juga merupakan kontrol yang sangat efisien terhadap sikap seseorang, sehingga orang itu tetap memiliki tekad yang kuat untuk berusaha dengan cara-cara yang positif tanpa kenal putus asa. Kekuatan spiritual mengarahkan sikap seseorang dan pikirannya kepada hal-hal yang positif, tidak dihantui oleh rasa tidak percaya diri, malas, dan sikap negatif lainnya. Sikap ini juga dipengaruhi impian. Seseorang yang selalu dapat memperbarui impian akan cenderung bersikap berani, rajin, percaya diri atau bersikap lebih positif.

Impian yang besar akan menjadikan seseorang berusaha mengadaptasikan sikap mereka menjadi penuh tenggang rasa, jujur, hormat, tegas, insiatif, berjiwa besar dan lain sebagainya. Orang yang mempunyai impian akan selalu dapat mengendalikan sikap dengan pikirannya. Oleh sebab itu, letakkan satu standar yang lebih tinggi, sehingga potensi diri kita dapat ditingkatkan. William Faulkner, seorang novelis peraih hadiah nobel, mengatakan,"Impikan dan bidiklah selalu lebih tinggi daripada yang Anda sanggupi. Janganlah hanya bercita-cita lebih baik daripada pendahulu atau sesama Anda. Cobalah menjadi lebih baik daripada diri sendiri."

Artinya, kita senantiasa memerlukan impian sebagai kontrol terhadap sikap dan mencapai kemajuan hidup yang berarti.Selain impian, ada satu hal yang penting disini yaitu antusiasme. Kata itu berasal dari bahasa Yunani, yaitu en theos artinya God in you –Tuhan bersamamu- Disaat kita sedang bersemangat, pada saat itulah Tuhan senantiasa mendampingi kita. Dengan semangat itulah manusia menciptakan impian yang lebih besar, berusaha memperoleh kemajuan-kemajuan serta mencapai sukses. Elbert Hubbart pun menegaskan, "Nothing great has ever been accomplished without enthusiasm.” (Tidak ada satupun kemajuan menakjubkan untuk diraih tanpa antusiasme.) Semangat dapat terus ditingkatkan dengan mengisi setiap detik waktu kita dengan kebiasaan-kebiasaan yang konstruktif. Kebiasaan-kebiasaan positif itu diantaranya mendengar, membaca, berbicara dan bergaul dengan orang yang positif. Jika seseorang dapat mempertahankan dan meningkatkan semangat hidup dalam dirinya, maka sikapnya menjadi lebih terarah hingga dapat menikmati hal-hal yang benar-benar menakjubkan di dunia ini. Sikap yang benar-benar didasari oleh faktor-faktor spiritual, impian dan antusiasme yang kuat pada kenyataannya selalu positif. Sikap positif itu sendiri sangat mempengaruhi seseorang untuk dapat mengekplorasi seluruh potensi diri dan meraih kesuksesan maupun kebahagiaan. Sikap ternyata yang terpenting bagi kemajuan atau kebahagiaan Anda saat ini dan di masa-masa yang akan datang. 

Attitude Is Everything


When it comes to resilience, attitude really is everything. Having an optimistic view of yourself and confidence in your strengths and abilities creates conditions for success and healthier living.
To start, let me be clear. When I talk of optimism, I do not mean that rose-colored glasses, Pollyannaish-way of looking at the world. True optimists know bad things happen; they experience tragedy just like everyone else. But what separates optimists from their pessimistic brothers and sisters is how they move forward in their thinking and actions relative to those events.
Much of the way we view the world has been shaped by the messages we received as children. I was fortunate to grow up with women who were remarkable optimists. My mother and my maternal grandmother -- women who lived through great difficulties, such as the Great Depression, single-parenting, loss of children and spouses -- still managed to demonstrate the belief that things will always work out in the end. They taught me to live life with anticipation and a hopeful expectation towards a desired outcome predicated not on wishful thinking, but through dedication and commitment to the goal.
I was well into my teenage years when I learned that not everyone grew up learning this positive outlook. A dear, childhood friend was taught differently. She received messages such as:
  • Feeling good about yourself? Be forewarned. There will always be someone who can't wait to knock you down.
  • Just because you did good today doesn't mean you will tomorrow.
  • If you expect the worst, you'll never be disappointed.
According to Dr. Martin Seligman's theory of learned optimism, optimistic children grow up to be optimistic teenagers and adults. In his book, "Learned Optimism," Seligman states that there are three factors that determine a learned optimistic paradigm:
1. Optimism is acquired from our mothers. How our mothers reacted to problems set the stage for our own reaction to difficult situations. If mom dealt with everyday problems with a bright and hopeful outlook, then we, as children, learned to do the same.

2. Optimism is influenced by the adults around us. The way adults (parents, teachers) chastise us can leave a lasting impression on how we perceive our own abilities. (Thank God for my mom and grandmother. I attended Catholic school in the 1960s ... enough said.)
3. Optimism is shaped by family turmoil. Family crises such as divorce or the untimely or tragic death of a family member can contribute to a child's general view of life later life.
Optimism, according to philosopher and futurist visionary Dr. Max More is an "empowering, constructive attitude that breates conditions for success by focusing and acting on possibilities and opportunities." This is why optimists tend to recover faster from difficulties. When something bad happens to optimists, they view the circumstance as temporary rather than permanent; they see the situation as affecting a specific part of their life, rather than pervading all areas.
Now, some people prefer to label themselves as realists, explaining events just as they are. As writer Robert Brault so simply explained, "The realist sees reality as concrete. The optimist sees reality as clay."
Do you view life with optimism -- Braultian realism -- or are your more in line with George Will,who said, "The nice part about being a pessimist is that you are constantly being either proven right or pleasantly surprised" ? What's your worldview? I'd love to hear from you.
Enjoy your day ... or at least try to do so!
The Optimist: An Overview
1. Views life positively
2. Takes life as it is
3. Is open to possibilities
4. Has a sense of humor, particularly about one's self
5. Is rational:
--Uses reason rather than being led by fears and desires
--Objectively assesses situations
--Takes action based on those assessments
If you are looking to build an attitude of optimism, review the overview above. Select just one factor and make a commitment to it. Not sure where to begin, but want to do so? Afraid the task may be daunting? Your willingness to try, in and of itself, is an example of factor number three: Being open to possibilities -- the possibility of shifting your attitude. Now, that wasn't so hard, was it?
Rita also conducts stress management and resilience-building workshops provided by WorkTerrain, a division of KidsTerrain, Inc. and funded by the Massachusetts Dept. of Industrial Accidents, and she is actively involved with Maine Resilience, a program coordinated with the effort, materials and information offered by the American Psychological Association and the Maine Psychological Association through their Public Education Programs. Rita is an Associate Member of the Internation`l Positive Psychology Association (IPPA). Visit her online atwww.ritaschiano.com and Red Room, where you can read her blog.

Kamis, 26 Juli 2012

Attitude

Attitude

Pengertian
Perilaku manusia juga dilatar belakangi oleh sikap. Sikap sendiri memeiliki pengertian sebagai “organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi relatif yang relatif ajeg yang disertai adanya perasaan tertentu dan memberikan dasar kepada organisme untuk membuat respon atau perilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya”. Atau dalam bahasa sederhana sikap adalah kesediaan beraksi terhadap suatu hal.

Sikap memiliki beberapa pengertian dan definisi sebagai berikut :
• Sikap adalah predisposisi mental untuk melakukan suatu tindakan (Kimmball Young (1945)
• Sikap adalah keajegan dan kekhasan perilaku seseorang dalam hubungan dengan stimulus manusia atau kejadian-kejadian tertentu (Sherif & sherif 1956)
• Sikap adalah predidposisi yang dipelajari untuk merespon secara konsisten dalam tatacara tertentu dan berkenaan dengan objek tertentu (Fishbein & Ajzen 1975)
• Kesimpulannya pengertain sikap adalah kecenderungan untuk bertindak dan bereaksi terhadap stimulus atau rangsangan.

Komponen sikap
Sikap merupakan hubungan dari berbagai komponen yang terdiri atas :
a. Komponen kognitif : yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan dan informasi yang dimilki seseorang tentang objek sikapnya atau komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan atau bagaimana mempersepsi objek
b. Komponen afektif : komponen yang bersifat evaluatif yang berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang
c. Komponen konatif : kesiapan seseorang untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan objek sikapnya atau komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek

Ciri-ciri sikap
Sikap memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Sikap tidak dibawa sejak lahir
Berarti manusia dilahirkan tidak membawa sikap tertentu pada suatu objek. Oleh karenanya maka sikap terbentuk selama perkembangan individu yang bersangkutan. Karena terbentuk selama perkembangan maka sikap dapat berubah, dapat dibentuk dan dipelajari. Namun kecenderungannya sikap bersifat tetap.
b. Sikap selalu berhubungan dengan objek
Sikap terbentuk karena hubungan dengan objek-objek tertentu, melalui persepsi terhadap objek tersebut.
c. Sikap dapat tertuju pada satu objek dan sekumpulan objek
Bila seseorang memiliki sikap negatif pada satu orang maaka ia akan menunjukkan sikap yang negatif pada kelompok orang tersebut.
d. Sikap itu dapat berlangsung lama atau sebentar
Jika sikap sudah menjadi nilai dalam kehidupan seseorang maka akan berlangsung lama bertahan, tetapi jika sikap belum mendalam dalam diri seseorang maka sikap relaatif dapat berubah.
e. Sikap mengandung perasaan atau motivasi
Sikap terhaadap sesuaatu akan diikuti oleh perasaan tertentu baik positif maupun negatif. Sikap juga mengandung motivasi atau daya dorong untuk berperilaku.